Najiskah Kotoran Hewan ?

Pembaca yang budiman, kita berjumpa kembali di kesempatan kali ini dalam rubric fikih, dan pembahasan kita di kesempatan kali ini masih berkaitan tentang najis, dan pembahasan kali ini akan kita fokuskan mengenai bagaimana status kotoran Hewan ada di sekeliling kita, apakah najis atau tidak? untuk mengetahuinya, mari kita simak pembahasan kali ini.
Pembaca yang budiman, Para ulama berbeda pendapat apakah kotoran hewan suci atau najis.
Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa kotoran hewan adalah najis, Pembaca yang budiman, selain imam Asy-Syafi’i, Abu Hanifah, dan Imam an-Nawawi, diamana dalam kitab al-Majmu’ menyatakan bahwa Imam Abu Hanifah berkata, semua kotoran burung suci kecuali kotoran ayam.
Sedangkan Pembaca yang budiman, Imam Malik dan Imam Ahmad berpendapat bahwa kotoran hewan yang dagingnya halal adalah suci. Lalu mana yang lebih tepat ? ternyata Pembaca yang budiman, masing-masing pendapat ini memiliki dalil.
Adapun pendapat yang berkata bahwa kotoran hewan itu najis, diantaranya dalilnya adalah?
Pertama. Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa, “Nabi shalallahu’alaihi wa sallam pergi buang hajat beliau memintaku mencari tiga batu, aku datang dengan dua batu dan juga membawa kotoran hewan, kemudian beliau menerima dua batu yang kubawa dan membuang kotoran tersebut seraya bersabda, ‘Ia kotor.” (HR. al-Bukhari).
Pembaca yang budiman, Dalam hadits ini Nabi shalallahu’alaihi wa sallam menolak kotoran yang diberikan oleh Ibnu Mas’ud, dan beliau memberikan alasan penolakan itu karena kotoran hewan bersifat ‘kotor’ yang berarti najis, dan ini mencakup kotoran hewan yang dimakan dagingnya maupun yang tidak dimakan, hal ini didukung oleh kenyataan bahwa Nabi shalallahu’alaihi wa sallam ingin menghilangkan najis selesai buang hajat, dan benda yang najis tidak dapat digunakan untuk menghilangkan najis.
Kedua, Jika kotoran Bani Adam najis tanpa perbedaan, maka kotoran hewan juga demikian. bahkan kotoran hewan lebih patut untuk dinyatakan najis, karena manusia tentu lebih mulia daripada hewan, di samping itu kotoran ini keluar dari dua jalan maka ia najis.
Dalil Imam Abu Hanifah yang menyatakan sucinya kotoran burung disebutkan oleh Imam an-Nawawi, katanya burung banyak di masjid kaum muslimin dan mereka tidak mencucinya seperti mereka mencuci kotoran Bani Adam, sementara kotoran ayam dinyatakan najis karena baunya yang busuk.
Pembaca yang budiman, inilah beberapa alasan ulama yang mengatakan bahwa kotoran hewan itu najis.
Kemudian Pembaca yang budiman, kita akan mengkaji Dalil-dalil dari para ulama yang berpendapat sucinya kotoran hewan yang halal dagingnya,
Adapun dalil yang pertama adalah. sebuah hadits riwayat Anas bin Malik, dimana ia berkata, “ ketika itu Beberapa orang dari Ukal atau Urainah datang ke Madinah, mereka sakit dan Nabi shalallahu’alaihi wa sallam memerintahkan mereka agar minum kencing dan susu unta zakat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Pembaca yang budiman, Perintah Nabi shalallahu’alaihi wa sallam untuk meminum air kencing unta menunjukkan sucinya kotoran unta, hal ini dikarenakan benda yang najis tidak diperbolehkan untuk diminum, dan inilah kesepakatan dari ahlul ilmi. Dan Pembaca yang budiman, sebagaimana yang kita ketahui, bahwa unta adalah hewan yang dagingnya halal untuk dimakan, maka semua hewan yang halal dagingnya dapat disamakan dengan unta, yakni kotorannya berarti suci.
Kemudian dalil yang kedua adalah kebolehan sholat ditempat berkumpulnya kambing atau kandang kambing, padahal jelas-jelas kambing tersebut buang kotoran di sana, adapun kebolehan ini sebagaimana hadits nabi shalallahu’alaihi wa sallam :
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ
Artinya: “Dahulu Nabi pernah sholat di tempat berkumpulnya kambing” [ HR. Bukhari]
Dan Pembaca yang budiman, hadits ini secara jelas menunjukan bahwa kotoran kambing adalah suci, dan sebagaimana yang kita fahami juga bahwa kambing adalah hewan yang dagingnya halal, sehingga kesimpulannya adalah: binatang yang dagingnya halal, maka kotorannya tidaklah najis.
Pembaca yang budiman, inilah kedua pendapat yang kita sampaikan dengan masing-masing dalilnya, dan Pembaca yang budiman, jika kita perhatikan kedua pendapat ini, sepertinya keduanya benar, karena kedua pendapat ini didukung dengan dalil-dalil yang shahih. Akan tetapi Pembaca yang budiman, tentu diantara kedua pendapat ini ada yang lebih kuat, dan Pendapat yang menyatakan sucinya kotoran hewan yang halal dagingnya adalah pendapat yang lebih rajih, kenapa demikian? Ya.. pendapat ini lebih kuat karena beberapa alasan, diantaranya adalah :
Pertama: Dali pendapat ini lebih jelas, lebih tepat dan lebih sesuai dengan masalah.
Lalu alasan yang Kedua: Dalam hadits riwayat Ibnu Mas’ud tidak ada keterangan tentang kotoran hewan apa yang dibuang oleh Nabi shalallahu’alaihi wa sallam, dan kemungkinan besar kotoran yang dibuang tersebut adalah kotoran hewan yang tidak halal dagingnya. Wallahu a’lam.
Kemudian alasan Ketiga adalah: bukan hal yang tepat jika menyamakan kotoran hewan secara umum dengan kotoran manusia, karena kotoran manusia telah ditetapkan kenajisannya oleh dalil, sementara dalil lain menetapkan sucinya sebagian kotoran hewan, khususnya hewan Unta dan Kambing.
Selanjutnya alasan yang Keempat adalah: dalil telah menetapkan bahwa tidak semua yang keluar dari dua jalan adalah najis, selain itu Pembaca yang budiman, tidak pernah kita menemukan sebuah keterangan bahwa telur itu najis, padahal telur itu keluar dari dubur.
Selanjutnya alasan yang kelima adalah, Menajiskan sesuatu karena baunya adalah tindakan yang kurang tepat, jika semua yang bau dihukumi najis maka perkaranya menjadi rancu dan tidak terpegang, tetapi yang tepat adalah hendaknya kita selalu merujuk kepada dalil shahih.
Demikianlah mungkin yang dapat kita sampaikan di kesempatan kali ini, semoga hal ini bermanfaat bagi kita, dan kita ucapkan terima kasih atas perhatian anda. Wallahu alam, Wassalamu ‘Alaiku Warahmatullah Wabarokaatuh.

“LAIN SYAKARTUM LA-ADZII DANNAKUM WALAIN KAFARTUM INNA AZABI LASYADIID”

Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti
Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Orang yang paling beruntung dalam hidup ini bukanlah yg memiliki harta banyak,
pangkat tinggi, gelar,kedudukan dan lainnya, melainkan yg terpenting adalah: 1. Orang yang diberi nikmat kemudian ia bersyukur. 2. Orang yang ketika diberi ujian Allah kemudian ia bersabar, karena kesyukuran dan kesabaran itulah yang membuat dirinya semakin dekat dengan Allah swt.
Oleh karena itulah jika kita berdoa kepada Allah meminta harta, ilmu dan pangkat, ini belum tentu akan membawa kebaikan bagi kita Bila tidak disertai dengan sikap bersyukur dan bersabar, mungkin sebaliknya itu akan menjadi fitnah. Tidak sedikit orang terkenal, tapi berakhir hidupnya dengan bunuh diri. Tidak sedikit orang yang berkedudukan tetapi terhina justru karena kedudukannya.
banyak orang yang menderita dengan keindahan rupanya. Orang yang berharta banyak tetapi
diliputi oleh rasa takut dan kekhawatir akan hartanya, sehingga bertambah kehinaannya karena ketamakannya.
Jadi kalau kita hendak berdoa kepada Allah, sertakanlah kita menjadi orang yang mengingati Nya dan banyak bersyukur di atas anugrah Nya. Karena boleh jadi nikmat itu berubah menjadi laknat atau azab bergantung pd sikap kita . Maka Rasulullah saw. Mengajarkan, hendaklah senantiasa berdoa :
“ALLAHUMMA AINNI A’LA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI IBADATIKA”.
Ya Allah jadikanlah kami hamba Mu yang sentiasa mengingati Mu dan Hamba mu yang sentiata
mensyukuri nikmat Mu, dan hamba Mu yang melakukan amal kebaikan karena Mu.
Akhi fillah,,,,,,.
Sering di antara kita lebih sibuk memikirkan nikmat yang belum ada dan belum sampai, padahal nikmat kita itu tidak akan tertukar, Allah menciptakan makhluk lengkap dengan rejekinya. kewajiban kita hanya usaha, ihktiar yg diiringi doa setelah itu Tawaktu alallah….biarlah allah yg ngaturnya.
“WA MAA MIN DAABBATIN FIL ARDY ILLA A’LALLAHI RIZQUHAA”
Dan bagi setiap makhluk yang melata di muka bumi, Allahlah yang menanggung rizkinya.
Yang harus selalu kita risaukan adalah justru kita tidak mensyukurinya. Setiap nikmat kalau
disyukuri akan mendatangkan nikmat yang lebih besar. Setiap nikmat kalau disyukuri akan
membuka pintu nikmat yang lainnya. ……………Oleh karena itu, kegigigihan kita sebagai ahli
syukur inilah yang sebetulnya harus kita miliki, kalau kita ingin menikmati hidup ini.
Ahli syukur, adalah seseorang yang hatinya tidak merasa memiliki dan dimiliki, kecuali menyadari semuanya milik Allah. Tidak ada nikmat sekecil apa pun kecuali dari Allah. Tidak ada istilah kebetulan, melainkan semua nikmat diatur oleh Allah swt. Sekali lagi Orang yang senantiasa bersyukur (ahli syukur) cirinya :
1. Sekecil apapun nikmat akan disyukurinya. Akibatnya akan merasakan kebahagiaannnya
sampai ke hal-hal yang kecil. Berbeda dengan yang tidak tahu bersyukur, dia letih dan susah
memikirkan nikmat yang belum ada. Akibatnya jangankan nikmat yang belum ada, yang sudah
ada saja tak ternikmati. Ingatlah Ahli syukur tidak pernah kehilangan kesempatan untuk
menikmati setiap nikmatnya, krn sikap syukurnya itu yang membuat ia nikmat.
2. Ahli syukur , Selalu memuji Allah dalam setiap kesempatan. Setiap kali ia mendapat pujian
tidak merasa itu miliknya. Semua yang membuatkan kita dipuji adalah karunia Allah. Oleh karena itulah tidak layak kita menjadi orang yang menikmati pujian, sehingga kita membohongi diri sendiri. Sebaik-baik orang yang bersyukur, yang selalu berbahagia adalah yang ketika dipuji
mengembalikan pujian itu kepada Allah swt. Dengan Ucapan “Al-Hamdulillah Rabbil A’lamin”
Segala puji hanyalah bagi Allah, hanyalah milik Allah, tuhan sekalian alam.
3. Ahli Syukur, Selalu berterima kasih kepada orang yang menjadi jalan nikmat bagi dirinya.
Semua nikmat ada jalur-jalurnya. Mungkin nikmat kita melalui seseorang. Orang yang tahu
bersyukur itu senang sekali untuk merenungi dan mengingati kebaikan orang lain dan
membalasnya. Dan orang-orang yang bersyukur inilah yang akan menikmati kehidupan yang
penuh dengan nikmat.
4. Ahli Sykur, akan memanfaatkan nikmat yang ada untuk mendekatkan diri kepada Allah. Lisan mengucapkan Al-Handulilah kepada Allah dan terima kasih kepada sesama manusia. dahi
dipakai banyak bersujud. Mata dipakai melihat kebenaran ilmu dan Al Quran. Lidah dipakai
banyak menyebut nama Allah, berdoa, menasehati kebaikan dan kebenaran, dan harta kekayaan dinafkahkan di jalan Allah.
Ingtalah bahwa Ilmu, kekayaan dan kesempatan adalah nikmat.
Allah menjanjikan setiap nikmat yang disyukuri akan mengundang nikmat yang lainnya. Tidak
usah bingung terhadap nikmat yang belum ada, karena nikmat yang belum ada bukan urusan
kita, itu hak mutlak Allah. Urusan kita mensyukuri nikmat yang ada.
Akhi fillah…….
Nikmatnya ahli syukur ialah akan bebas dari fikiran yang sia-sia, dari menyusahkan dirinya, bahkan akan dimudahkan oleh Allah untuk mendapatkan nikmat-nikmat yang belum terpikirkan olehnya.
Kita yakinkan dalam diri kita : kita banyak angan-angan dan keinginan yang kita harapkan, tetapi tidak semua yang diharapkan akan kita dapatkan, kewajiban kita adalah mensyukuri apa yang kita peroleh, maka jadilah manusia Ahli Syukur.
Amin Allahumma Aminn………

Doa dan Keutamaan Sholat Dhuha

ALLAHUMMA INNADH DHUHA-A DHUHA-UKA, WAL BAHAA-A BAHAA-UKA, WAL JAMAALA JAMAALUKA, WAL QUWWATA QUWWATUKA, WAL QUDRATA QUDRATUKA, WAL ISHMATA ISHMATUKA. ALLAHUMA INKAANA RIZQI FIS SAMMA-I FA ANZILHU, WA INKAANA FIL ARDHI FA-AKHRIJHU, WA INKAANA MU’ASARAN FAYASSIRHU, WAINKAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU, WA INKAANA BA’IDAN FA QARIBHU, BIHAQQIDUHAA-IKA WA BAHAAIKA, WA JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA QUDRATIKA, AATINI MAA ATAITA ‘IBAADAKASH SHALIHIN.

Artinya: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagunan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh”.

Didalam Surah Adh-Dhuha Allah swt bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam: “Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi.” (QS. 93:1-2). Pernahkah terlintas dalam benak kita mengapa Allah swt sampai bersumpah pada kedua waktu itu?. Beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa kedua waktu itu adalah waktu yang utama paling dalam setiap harinya.

Sahabat Zaid bin Arqam ra ketika beliau melihat orang-orang yang sedang melaksanakan shalat dhuha: “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat itu dilain sa’at ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Shalat dhuha itu (shalatul awwabin) shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena mulai panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim).

Lantas bagaimana tidak senang Allah dengan seorang hamba yang seperti ini, sebagaimana janjiNya: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah Kepada Allah
dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. 5:35).

Disamping itu shalat dhuha ini juga dapat mengantikan ketergadaian setiap anggota tubuh kita pada Allah, dimana kita wajib membayarnya sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Setiap pagi setiap persendian salah seorang diantara kalian harus (membayar) sadhaqah; maka setiap tasbih adalah sadhaqah, setiap tahmid adalah sadhaqah, setiap tahlil adalah sadhaqah, setiap takbir adalah sadhaqah, amar ma’ruf adalah sadhaqah, mencegah kemungkaran adalah sadhaqah, tetapi dua raka’at dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut” (HR Muslim).

Tetapi yang lebih dalam dari itu lagi adalah shalat dhuha ini adalah salah amalan yang disukai Rasulullah saw beserta para sahabatnya (sunnah), sebagaimana anjuran beliau yang disampaikan oleh Abu Hurairah ra: “Kekasihku Rasulullah saw telah berwasiat kepadaku dengan puasa tiga hari setiap bulan, dua raka’at dhuha dan witir sebelum tidur” (Bukhari, Muslim, Abu Dawud).
Kalaulah tidak khawatir jika ummatnya menganggap shalat dhuha ini wajib hukumnya maka Rasulullah saw akan tidak akan pernah meninggalkannya. Para orang alim, awliya dan ulama sangatlah menjaga shalat dhuhanya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafei’: Tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk tidak melakukan shalat dhuha”. Hal ini sudah jelas dikarenakan oleh seorang mukmin sangat apik dan getol untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya”.

“Dari Abu Huraerah ridliyallhu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda : Pada tiap-tiap persendian itu ada shadaqahnya, setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah (bacaanya : SUBHANALLAH, ALHAMDULILLAH, LAA ILAHA ILLALLAHU, ALLHU AKBAR), setiap amar ma’ruf nahyil munkar itu shadaqah. Dan cukuplah memadai semua itu dengan memperkuat/melakukan dua rakaat shalat dhuha” (Riwayat Muslim – Dalilil Falihin Juz III, hal 627).

Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa shalat empat rakaat dipagi hari, Allah bakal menjamin dan mencukupkan segalanya dengan limpahan barakah sepanjang hari itu, sehingga bathinpun akan terasa damai walau apapun tantangan hidup yang merongrong, karena dia telah sadar semua itu ketetapan Allah : “Hai anak Adam, tunaikanlah kewajibanmu untuk KU, yaitu sembahyang empat rakaat pada pagi hari, niscaya Aku akan mencukupi sepanjang harimu (Hadits Riwayat Imam Ahmad, Abu Ya’la).

Dengan lafadz lain berbunyi : “Hai anak Adam, bersembahyanglah untuk KU empat rakaat pada pagi hari, aku akan mencukupimu sepanjang hari itu” (Riwayat Ahmad dari Abi Murrah).

Doa setelah menunaikan sholat dhuha yang diajarkan Rasulullah SAW : “Ya Allah, bahwasanya waktu dhuha itu waktu dhuha (milik) Mu, kecantikan ialah kencantikan (milik) Mu, keindahan itu keindahan (milik) Mu, kekuatan itu kekuatan (milik) Mu, kekuasaan itu kekuasaan (milik) Mu, dan perlindungan itu perlindungan Mu. Ya Allah, jika rizqiku masih diatas langit, turunkanlah, dan jika ada di didalam bumi, keluarkanlah, jika sukar, mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba Mu yang shaleh”.

Jumlah raka’at shalat dhuha bisa dengan 2,4,8 atau 12 raka’at. Dan dilakukan dalam satuan 2 raka’at sekali salam. Hadits Rasulullah SAW terkait shalat dhuha antara lain : “Barang siapa shalat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana disurga” (H.R. Tarmiji dan Abu Majah). “Siapapun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak busa lautan.” (H.R Turmudzi). “Dari Ummu Hani bahwa Rasulullah SAW shalat dhuha 8 rakaat dan bersalam tiap dua rakaat.” (HR Abu Daud). “Dari Zaid bin Arqam ra. Berkata, Nabi SAW keluar ke penduduk Quba dan mereka sedang shalat dhuha‘. Beliau bersabda, “Shalat awwabin (duha‘) berakhir hingga panas menyengat (tengah hari).” (HR Ahmad Muslim dan Tirmidzi).

Itulah keistimewaan dan keutamaan shalat DHUHA, didunia memberikan keberkahan hidup kepada pelakunya, diakherat pun, di hari kiamat, orang itu dipanggil Allah untuk dimasukkan ke dalam syurga, sebagaimana sabda Nya didalam hadits qudsi : “Sesungguhnya di dalam syurga, ada pintu yang dinamakan pintu DHUHA, maka ketika datang hari kiamat memanggillah (yang memanggil Allah), dimanakah orang yang selalu mengerjakan sembahyang atas Ku dengan sembahyang DHUHA? inilah pintu kamu, maka masuklah kamu ke dalam syurga dengan rahmat Allah”. (Riwayat Thabrani dari Abu Huraerah).

Doa Kelahiran Anak

Doa untuk anak:

“ U`iidzuka bi kalimaatillaahit tammaati min kulli syaithooni wa haammah. Wa min kulli `ainin laammah. “ Aku perlindungkan engkau, wahai bayi, dengan kalimat Allah yang sempurna, dari setiap godaan syaitan, dan setiap pandangan yang penuh kebencian. “

kagem umi n abi nya:

barokallahu lakuma fil-mauhubah wasyakartuma al-Wahib wabalagha asyuddaha
waruziqtuma birroha..

“Semoga keberkahan terlimpahkan kepada kalian berdua (keluarga/orang tua) atas
kelahiran ini. Bertambah syukurnya kepada Allah Yang Maha Pemberi karunia. Bisa
melihatnya hingga dewasa. Dan dikaruniai kebaikan-kebaikannya serta
keberbaktiannya.”

Semoga bermanfaat. amiin

Tafsir Suroh Ali Imran ayat 26 – 27

(26) Katakanlah: Ya Tuhan yang memiliki segala kekuasaan.Engkau berikan kekuasaan kepada barang siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari barang siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau muliakan barangsiapa yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Kuasa.

 

 

(27) Engkau masukkan malam kepada siang dan Engkau masukkan siang kepada malam, dan ”Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau memberi rezeki siapa yang Engkau kehendaki dengan tidak berkira.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Naiknya cahaya nubuwwat yang dibawa 0leh Nabi kita Muhammad

saw telah menimbulkan iri hati dalam kalangan Yahudi ( BaniIsrail ). Sebab selama ini beratus-ratus tahun lamanya,

Nubuwwat dan Risalat hanya pada Bani Israil, tidak pada yang lain. Adapun bangsa Arab di Hejaz sendiri selama ini tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang, Mereka duduk sama rendah dan tegak sama tinggi dengan kebanggaan kabilah masing-masing.

Di sebelah Utara ada raja-raja dari keturunan Bani Mundzir yang dipandang sebagai 0rang yang berbangsa, padahal kekuasaan mereka memerintah adalah di bawah naungan kerajaan Persia dan yang lain di bawah perlindungan kerajaan Romawi.

Sekarang timbul saja satu kekuasaan baru di Tanah Arab. Nabi Muhammad saw diutus Tuhan menjadi Rasul. Pokoknya ialah mengajarkan kepercayaan kepada Tuhan, tetapi hasilnya ialah sesuatu kekuasaan, suatu pemerintahan yang mempunyai wibawa dan kemegahan, membuat perjanjian perang atau damai, rnenghukum yang bersalah, sampai juga berhak mcnghukum bunuh. Ini sudah menjadi kenyataan.

Tetapi ada di antara Bani Israil itu yang tidak mau mengakui kenyataan. Demikian pula 0rang-0rang Arab yang memandang diri mereka bangsawan. Apatah lagi dua kerajaan besar yang berkuasa pada ketika itu, yaitu Kerajaan Romawi Timur dan Kerajaan Persia.

Nabi kita s.a.w berjuang bukanlah untuk mencapai suatu kekuasaan, atau untuk mencapai jabatan tertinggi sebagai kepala negara. Sekali-kali dia tidak mengingat itu. Yang ditujunya ialah kebesaran agama, tegaknya syiar Allah dan keluar manusia dari gelap-gulita syirik kepada terang-benderang iman. Tetapi meskipun beliau tidak menuju kekuasaan, namun kekuasaanpun tercapai. Akhirnya kekuasaan bukanlah tujuan, tetapi menjadi alat buat melancarkan agama. Demikianlah telah ditakdirkan 0leh Allah. Kalau kita ukur secara sekarang; beliau datang membawa satu ideologi, yaitu Islam. Kemudian dengan sendirinya terbentuk satu kekuasaan, di Madinah. Bukan beliau terlebih dahulu mengejar suatu kekuasaan, lalu kemudian disusun ideologinya.

Tentu saja kekuasaan yang baru tumbuh ini tidak disenangi 0leh musuh-musuhnya. Bani Israil merasa di kalangan mereka sajalah ada Nabi, di kalangan lain tidak ada. Kalau ada hanya Nabi palsu. Kaisar Persia pernah memerintahkan 0rang pergi menangkap Muhammad yang dipandangnya mengacau di Tanah Arab itu, hidup atau mati! .

Dalam suasana demikian Tuhan menyuruh ucapkan doa ini:

قُلِ اللَّهُمَّ مالِكَ الْمُلْكِ

“Katakanlah : Ya Tuhan yang memiliki segala kekuasaan.” (pangkal ayat 26).

Seluruh kekuasaan di langit dan di bumi, atau segala makhluk yang hidup atau yang beku, atas laut dan darat, gunung dan lembah, atas alam semesta.

تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشاءُ وَ تَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشاءُ

“Engkau berikan kekuasaan kepada barangsiapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari barang siapa yang Engkau kehendaki”

Walaupun bagaimana besar kekuasaan seorang raja diberi 0leh Allah, mudah saja bagiNya mencabut. Berapa kita lihat raja-raja, sultan-sultan, yang dahulu nenek-moyangnya berkuasa

besar, sampai pada anak atau cucu; habis kekuasaan tinggallah gelar, habis tanah tinggallah istana. Berapa pula kita lihat orang yang tadinya bukan asal raja, naik memimpin bangsanya, mencapai puncak kekuasaan tertinggi, padahal dianya hanya bekas budak saja dari raja yang berkuasa tadi.

Sebab seluruh manusia itu hanyalah dari satu keturunan, sama darahnya dan sama dagingnya,

sama asal dari tanah kemudian menjadi mani , kemudian terbentuk jadi Orang, kemudian kembali jadi tanah lagi. Tidak ada darah bangsawan di dunia ini yang keturunannya bukan dari Adam, atau bukan dari asal-usul manusia. Timbulnya kekuasaan hanyalah pinjaman sementara dari Allah.

وَ تُعِزُّ مَنْ تَشاءُ وَ تُذِلُّ مَنْ تَشاءُ

“Dan Engkau muliakan barangsiapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan barangsiapa yang Engkau kehendaki. ”

Kemuliaan bisa dianugerahkan Tuhan walaupun kepada orang yang tidak berpangkat tinggi, dan kehinaan bisa pula dijatuhkan Tuhan, walaupun kepada orang yang disebut berpangkat. Sebab pangkat dan kemuliaan yang diberikan Allah lain coraknya daipada istilah ­istilah yang diperbuat manusia. Izzah artinya kemuliaan dan dzilah artinya kehinaan.Izzah bisa juga diartikan gengsi, prestise atau wibawa. Sinarnya tidak akan dapat ditutup walaupun oleh kemiskinan! Dzillah bisa juga diartikan jiwa rendah, yang tidak dapat disembunyikan walaupun disalut dengan emas.

 

بِيَدِكَ الْخَيْرُ

“Di Tangan Engkau segala kebaikan.”

Yaitu Engkaulah sumber telaga dari segala yang baik di alam ini, dipancarkanNya kepada sekalian makhlukNya, sehingga semuanya mendapat menurut kadar bahagian masing-masing.

إِنَّكَ عَلى‏ كُلِّ شَيْ‏ءٍ قَديرٌ

 

“Sesungguhnya Engkau atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Kuasa.” (ujung ayat 26).

Maka di dalam rangka kekuasaan Allah, dicabutlah nikmat kekuasaan itu dari Bani Israil. Maka kuasalah Tuhan menimbulkan suatu kekuasaan baru yang menimbulkan Dunia Baru, yang membuat air bah revolusi dalam alam fikiran manusia, yaitu kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. yang mulia , timbul dari suatu daerah tandus dan gersang di padang pasir, di lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan. Seorang pujangga Inggris yang terkenal, Thomas Carlyle, pernah mengatakan bahwa berkat ajaran Muhammad s.a.w. maka padang pasir yang kering itu telah berobah menjadi mesiu yang membakar susunan masyarakat lama; ke Barat telah sampai ke Cordova dan ke Timur telah sampai ke Delhi. Dia telah mendirikan pusat-pusat kebudayaan dan peradaban di Damascus, Baghdad, Cairo, Samarkand, Delhi dan menjalar sampai ke pulau-pulau daerah khatulistiwa kita ini.

Di dalam menafsirkan al-mulku yang berarti kekuasaan itu, Ibnu Abbas telah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-mulku (kekuasaan) itu ialah an-Nubuwwah , yaitu kenabian.

Penafsiran ini dapatlah kita renungkan. Sebab al-mulku yang timbul dalam an-nubuwwah jauhlah lebih kekal daripada al­mulku yang didapat di dalam gejala perebutan politik dan kekuasaan, seorang raja naik seorang raja jatuh dan scorang merampas kekuasaan. Satu dinasti timbul dan satu dinasti tenggelam.Di dalam surat 4 (an-Nisa’, ayat 54) disebutkan bahwa Tuhan Allah menganugerahkan kepada keluarga Ibrahim, kitab dan hikmat. Setelah itu Tuhanpun menganugerahkan mulkan aziman, kekuasaan yang besar.

Cobalah perhatikan sejarah keturunan Ibrahim, baik Bani Ismail maupun Bani Israil. Yang langsung menjadi penguasa besar (Menteri Urusan dalam bidang keuangan) hanyalah Yusuf di negeri Mesir. Yang langsung menjadi raja yang menduduki takhta hanya Daud dan Sulaiman. Tetapi yang langsung menguasai jiwa manusia hanyalah Nabi-nabi itu.

Musa dan Harun menentang kekuasaan Fir’aun, dengan kekuasaan wibawa jiwa, mereka memimpin Bani Israil. Nubuwwat adalah kekuasaan jiwa yang tiada teratasi. Nabi Daniel dalam tawanan Nebukadnezar. Karena kekuasaan jiwanya telah menimbulkan takut pada raja besar itu. Nabi Isa Almasih mengatakan bahwa kerajaan beliau adalah di Syurga bukan di Dunia.

Maksudnya ialah bahwa kekuasaan Nubuwwat itu adalah atas jiwa. Kekuasaan besar inilah yang diberikan Allah kepada para Rasul dan para Nabi, sehingga walaupun nabi-nabi tidak ada lagi, namun kekuasaan mereka masih hidup terus-menerus.

Berapa banyak kerajaan yang berkuasa di dalam dunia ini, mereka tidak merasa kuat berdiri kalau mereka tidak menyatakan menyandarkan kekuasaan itu kepada sejarah nabi-nabi.

Berapa banyak raja-raja Kristen mencantumkan pada rangkaian gelar mereka bahwa mereka adalah “pembela agama Kristen”.

Dan beberapa sultan khalifah Islam, baru merasa kekuasaan mereka jadi kokoh kalau nama mereka turut didoakan di dalam khotbah Jum’at. Raja-raja Turki Usmani dengan penuh khidmat memakai gelar “Khadam dari kedua Tanah Suci” (Makkah dan Madinah).

Kekuasaan Nubuwwat adalah kekuasaan atas rohani. Sedang kekuasaan duniawi adalah pada lahir. Seorang pencuri baru dapat dibawa ke muka hakim jika cukup bukti-bukti pencuriannya. Oleh sebab itu seorang pencuri dengan cara yang cerdik sekali mencoba merahasiakan perbuatannya dan menghilangkan bukti-bukti, sehingga tidak dapat jaksa menuntut. Tetapi kekuasaan nubuwwat menimbulkan rasa takut pada manusia akan berbuat jahat, sebab ada hukum yang akan diterimanya dari Tuhan, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi-nabi.

Maka dari sebab membaca ayat yang tengah kita tafsirkan ini, kita mendapat dua kesan. Al-Mulku atau kekuasaan baik secara kerajaan dunia ataupun kerajaan nubuwwat diberikan oleh Allah kepada barangsiapa yang dikehendakiNya. Kekuasaan duniawi bisa diberikan dan bisa dicabut. Tetapi kekuasaan nubuwwat yang diberikan kepada Anbiya dan Mursalin, tidak pernah dicabut. Bahkan setelah mereka mati, kekuasaan rohani yang mereka tinggalkan tetap berjalan.

Dan Tuhan bisa memuliakan seseorang, walaupun dia bukan raja atau kepala negara. Seorang ulama besar di Mesir beberapa abad yang telah lalu, bernama Al `Izzu bin ‘Abdis-Salam sampai digelari orang Sulthanul-`Ulama karena kemuliaan dan kebesaran jiwanya. Kalau dia berjalan di jalan raya, Raja Mesirlah yang dipaksa oleh sesuatu kekuatan ghaib turun dari kudanya apabila bertemu beliau di tengah jalan; bukan beliau yang menyembah memberi hormat kepada raja itu.

Kekuatan iman menimbulkan nur (cahaya) pada mata, sehingga bisa menembus ke dalam jantung seseorang yang ditentangnya, walaupun yang ditentangnya itu seorang raja, dan menimbulkan quwwah, yaitu kekuatan luar biasa yang timbul dari dalam.

Sahabatku Mohammad Nasir, pernah menceritakan kepadaku, bagaimana ayah saya dan guru saya Dr. Syaikh Abdul Karim Amrullah bersikap seketika pertemuan di Hotel Homan di Bandung di dalam rangka satu pertemuan yang diadakan oleh tentara pendudukan Jepang. Seketika semua telah memberi hormat (Sei Kere) mengarah Istana Kaisar Jepang di Tokyo dengan sikap ruku’, behau sendiri tetap duduk. Ini adalah kekuatan batin, bukan kekuatan badan; karena beliau di waktu itu kurus kering ditimpa penyakit asma.

Dan iman itu menimbulkan roh atau semangat yang menyebabkan jiwa itu sendiri hidup. Sebab badan dihidupi jiwa, sedang jiwa dihidupi oleh iman. Oleh sebab itu, maka ulama ­ulama yang memegang waratsah (pusaka) dari nabi-nabi adalah mempunyai kemuliaan jiwa, yang raja-raja sendiri bila berhadapan dengan dia adalah laksana khadamnya.

Kalau Imam Malik masuk ke dalam majlis Khalifah ­khalifah Bani Abbas, semua yang hadir terpaksa berdiri, sebab yang berdiri terlebih dahulu adalah Khalifah sendiri. Khalifah merasa dirinya hina dan kotor, munafik di hadapan ulama-ulama yang jujur dan bersedia mati untuk menegakkan kebenaran Tuhan itu. Itulah sebabnya maka raja-raja dan penguasa kerap kali mempergunakan jabatan tinggi, gaji besar, kehormatan, uang bertumpuk-tumpuk untuk membeli kemuliaan ulama itu. Itu sebabnya maka Al-Mu’tashin yang gagah perkasa, yang telah menangkap Imam Hanbali dan membenamkannya dalam penjara selama 30 bulan, akhirnya kalah oleh semangat Imam Hanbali yang tidak mau merubah pendiriannya, walaupun dipaksa dengan berbagai ancaman dan penghinaan.

Adapun ulama-ulama yang lemah jiwanya, yang hanya otaknya yang penuh dengan ilmu-ilmu agama, inilah yang kerapkali terjual dan tergadai ke dalam istana raja-raja dan penguasa­penguasa tertinggi. Kalau ada ulama semacam ini penguasa itu merasa legalah berbuat maksiat dalam negara, menindas rakyat, menghisap darah dan mengganggu rumah tangga orang.

Sebab ulama yang akan menegurnya yang cukup mempunyai `izzah (pribadi) tidak ada lagi. Mulut ulama yang telah mendekati istana itu sudah tidak bisa bicara lagi, sebab telah disumbat dengan emas. Na ‘udzu blllahl min dzalik.

 

تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهارِ وَ تُولِجُ النَّهارَ فِي اللَّيْلِ

“Engkau masukkan malam kepada siang dan Engkau masukkan siang kepada malam.” (pangkal ayat 27).

Artinya Engkau gilirkan peredaran musim, sehari semalam 24 jam; 12 jam mestinya untuk siang dan 12 jam untuk malam, tetapi bilangan siang atau sebaliknya, sehingga termasuklah atau tersarunglah sebahagian dari hitungan waktu bilangan malam telah termasuk ke siang hari, atau jam bilangan siang termasuk ke dalam malam hari. Kita renungkan edaran siang dan malam ini, yang di dalam edaran itu terjadilah segala peristiwa, sehingga kita dapat mengambil kesan bahwa turun naiknya suatu bangsa, naik atau turunnya bintang seseorang manusia tali-temali dengan edaran zaman ini, sehingga dari sebabnya kita dapat menghitung perjalanan sejarah.

Sejarah bangsa naik dan bangsa jatuh. Sejarah kekuasaan manusia yang bergeler, dahulu budak jajahan sekarang ummat merdeka. Dahulu dipertuan, sekarang menjadi yang terusir.

Kita saja yang kadang-kadang payah menghitung sebelum tahu, tetapi kemudian kita mengakui kebenarannya setelah melihat kenyataan.

 

وَ تُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَ تُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ

 

“dan Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup.”

 

Dilihat ke segala yang kecil, tampaklah dari telur yang belum bernyawa timbul seekor anak ayam dan hidup, dan dari ayam yang hidup keluar telur yang belum bernyawa. Dari yang kecil dapat kita lihat bangkai anjing di pinggir jalan, beberapa hari terletak lalu timbul ulat yang kecil-kecil beribu-ribu banyaknya, kemudian menjadi langau dan lalat. Maka keajaiban pada mati dan hidup, hidup dan mati pada makhluk yang kecil, sama dengan keajaiban yang didapat pada alam yang besar. Diukur pada bangsa-bangsa pun demikian pula. Allah mengeluarkan yang hidup dari yang mati. Allah menanamkan ajaran Islam yang hidup dari negeri Mekah yang laksana mati karena jahiliyahnya.

Berkali-kali pula Allah memperlihatkan kuasa, dari orang yang bodoh lahir seorang anak yang pintar, atau dari seorang ayah yang pintar, lahir seorang anak yang bodoh. Dari seorang ayah yang thalih timbul anak yang shalih, dan dari ayah yang shalih ada anak yang thalih.

وَ تَرْزُقُ مَنْ تَشاءُ بِغَيْرِ حِسابٍ

“dan Engkau memberi rezeki siapa yang Engkau kehendaki dengan tidak berkira.” (ujung ayat 27).

Tidakkah pula berkira-kira kalau dia melimpahkan rezeki kepada makhlukNya. Siapa yang akan mengira dan menghitung, padahal rezeki itu Dia punya, dan yang Dia beri itu Dia pula yang punya ? dan berapa pun banyaknya Dia memberi tidaklah Dia akan rugi, sebagai yang tersebut di dalam Hadits Qudsi:

“Kalau sekiranya orang-orang yang dahulu di antara kamu dan orang-orang yang terkemudian, baik jin ataupun manusia, semuanya memohon kepada Allah dan semuanya diberi, tidaklah akan rusak dan kurang kepunyaan Allah, hanyalah laksana memasukkan sebuah jarum ke dalam lautan saja.” Jarum Dia yang punya dan lautpun Dia yang punya .

Apabila Allah menyuruh RasulNya membaca ayat ini sebagai doa, dan kemudian dia baca pula sebagai doa, terlepaslah kita dari suasana terombang-ambing melihat perubahan perubahan keadaan dan suasana di dalam alam ini.

Dan tertujulah rasa Tauhid, yaitu menghimpunkan kekuasaan dan kemuliaan kepada yang Satu. Maka bersyukurlah kepada Allah ketika diberiNya kurnia dan bersabarlah atas percobaanNya seketika Dia cabut. Tetapi apabila iman ada dalam hati, perobahan keadaan tidaklah akan merubah . Sebab semua kita dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

menentramkan sekali

Hadits 4: Nasib Manusia Telah Ditetapkan

HADITS KEEMPAT

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ      أَوْ سَعِيْدٌ.    فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

[رواه البخاري ومسلم]

 

Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga  maka masuklah dia ke dalam surga.

(Riwayat Bukhori dan Muslim).

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

1.     Allah ta’ala mengetahui tentang keadaan makhluknya sebelum mereka diciptakan dan apa yang akan mereka alami, termasuk masalah kebahagiaan dan kecelakaan.

2.     Tidak mungkin bagi manusia di dunia ini untuk memutuskan bahwa dirinya masuk surga atau neraka, akan tetapi amal perbutan merupakan sebab untuk memasuki keduanya.

3.     Amal perbuatan dinilai di akhirnya. Maka hendaklah manusia tidak terpedaya dengan kondisinya saat ini, justru harus selalu mohon kepada Allah agar diberi keteguhan dan akhir yang baik (husnul khotimah).

4.     Disunnahkan bersumpah untuk mendatangkan kemantapan sebuah perkara dalam jiwa.

5.     Tenang dalam masalah rizki dan qanaah (menerima) dengan mengambil sebab-sebab serta tidak terlalu mengejar-ngejarnya dan mencurahkan hatinya karenanya.

6.     Kehidupan ada di tangan Allah. Seseorang tidak akan mati kecuali dia telah menyempurnakan umurnya.

7.     Sebagian ulama dan orang bijak berkata  bahwa dijadikannya pertumbuhan janin manusia dalam kandungan secara berangsur-angsur adalah sebagai rasa belas kasih terhadap ibu. Karena sesungguhnya Allah mampu menciptakannya sekaligus.

http://haditsarbain.wordpress.com/